Senin, 08 Oktober 2012

Analisis film "Kinky Boots"

Aisyah Hudaya 09-091
Fatimah Lubis 10-050
Fitri Dian Adlina 10-090


 

Film ini bercerita tentang perlajanan seorang laki-laki yang mewarisi perusahan keluarganya yang mau bangkrut. Perusahaannya ialah perusahaan sepatu yang sangat terkenal dimasanya “Prince Shoes”. Karena banyak persaingan fashion yang muncul, sehingga membuat perusahan Prince Shoes yan terkenal ini  hamper gulung tikar.  

Charlie prince merupakan generasi ke-4 yang memang seharusnya menjalannkan perusahan sepatu tersebut. Tapi sebenarnya Charlie prince tidak terlalu menyukai perusahan sepatu keluarganya tersebut. Tapi ketika ayahnya meninggal Charlie prince mau tidak mau harus melanjutkan bisnis keluarganya. Keadaan  ini sempat membuat Charlie prince putus asa dan memecat beberapa karyawan perusahaan. Ketika itu ada seorang karyawan yang memarahi Charlie prince atas perbuatannya yang langsung memecat karyawan dengan seenaknya. Karyawan perempuan itu memberi masukan pada Charlie prince untuk mengeluarkan ide, bukan malahnya memecati karyawan-karyawan yang membutuhkan pekerjaan.

Pada suatu malam Charlie prince ingin menyelamatkan seorang perempuan dan malah akirnya ia yang diselamatkan oleh seorang laki-laki yang berpenampilan perempuan, yang bernama Lola. Lola merupakan pria kulit hitam yang bertransformasi menjadi wanita karena dia lebih nyaman menjadi wanita. Lola bekerja sebagai penyanyi club malam. Club tempat Lola bernyanyi ternyata club transgender.

Pada saat Charlie prince terdiam dengan beban yang ia tanggung ia teringat akan pengalamannya yang melihat sepatu Lola yang sudah rusak. Akirnya Charlie prince mendapatkan ide untuk membuat sepatu boots untuk laki-laki. Hasil pertama yang dibuat Charlie prince tidak sesuai dengan selera Lola. Lola pun mendangai kantor Charlie prince dan marah-marah. 

   

Akirnya Lola mengatakan keingin dia tentang sepatu yang ia inginkan. Lola pun diminta Charlie prince untuk bekerja diperusahaan sepatu Charlie prince sebagai perancang sepatu. Charlie prince berpendapat bahwa sepatu buatannya itu akan mampu bersaing dan tampil di Fashion show di Milan.

 

Dalam pembuatan sepatu banyak rintangan yang dihadapi oleh Charlie prince, tunangan yang tidak mendukung, dana yang tidak ada, dan sepatu yang dibuat belum memenuhi criteria yang diinginkan oleh Charlie prince. Akirnya atas  usaha, kerja keras dan kekompakan antara Charlie prince, Lola dan seluruh pegawai perusahaan akhirnya Charlie prince berhasil memproduksi sepatu yang akan ditampilkan di Milan. rencananya yang akan memperagakan sepatu boots buatan Charlie prince adalah Lola dan beberapa teman-teman Lola.  

Selasa, 02 Oktober 2012

Teori - Teori Belajar Awal


Nama kelompok :
Fatimah Lubis     (10-050)

Disetiap waktu,
sains adalah bentuk dari riset-riset yang dilakukan,
riset merupakan metode efektif  yang ditemukan dan sesuai zamannya.
Setiap langkah kemajuan dalam sains bergantung pada penelitian sebelumnnya,
proses ini tidak bisa dipercepat hanya dengan menunggu
(Boring, 1930 dalam Gredler learning and instruction)


v  Pengkondisian Klasik dan Koneksionisme
Mempelajari perilaku memiliki dua pendekatan awal, pertama pengkodisian klasik dan yang kedua koneksionisme

Asumsi dasar behaviorisme :
1.      Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik)
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.

Behaviorisme
Pengkondisian refleks dalam eksperimen yang dilakukan Bekheterev dan Pavlov merefleksikan asumsi ini dan mendemonstrasikan bahwa relasi natural antara stimulus dan refleks yang terasosiasikan dapat diubah.

Teori Emosi
Watson mengidentifikasi 3 reaksi emosional bayi yang bersifat naluriah, yaitu ; cinta , marah, dan takut. Watson sepakat dengan Freud bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek atau kejadian lainnya.
Hukum Belajar
Thorndike pada awalnya mengidentifikasi 3 hukum belajar. Pertama, hokum efek (law of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut.
Hukum efek penting karena mengidentifikasi mekanisme baru dalam proses belajar. Kedua, hokum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan dari pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar jika diikuti oleh keadaan yang menyenangkan. Ketiga, hokum kesepian (law of  readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatur keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”.

v  PSIKOLOGI GESTALT (Presepsi dari Pengalaman)
Penelitian yang dilakukan oleh Gestalt terhadap persepsi visual menunjukan, pertama persamaan yang banyak dapat diperkirakan sebagai keseluruhan dan kedua seringnya individual mentransformasikan input visual yang tidak lengkap kedalam citra visual yang lebih jelas disebut proses konstruktif

Asumsi dasar :
1.      Bahwa yang harus dipelajari adalah perilaku “molar” bukan perilaku “molecular”
2.      Individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli, dan merespon berdasarkan persepsi tersebut.
Faktor-faktor spesifik dalam pemecahan masalah :
1.      Latihan mentransfer
2.      Pendekatan masalah dan kekuatan fungsional
3.      Belenggu masalah

v  Perbandingan Teori Gestalt & Behaviorisme
Psikologi behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risenya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar dan fokus studinya.
Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons sebagai fokus riset. Sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan perspepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.